Monday, September 15, 2008

ORANG JAWA MEMAKNAI AGAMA

Berangkat dari keyakinan, maka orang memeluk Agama. Kadangkala orang menjadi sangat fanatic, bahkan dengan sukarela berkorban untuk agamanya, bakan hanya harta, nyawapun dipertaruhkannya. Hal itu terjadi karena setiap orang memliki cara tersendiri dalam memaknai agama. Dalam memaknai Agama orang Jawa memiliki unikan, hal ini diendus ketiak M.Soehadha mencermati lebih detil dari sebuah kasus pengalaman mistis para penganut salah satu aliran kejawen terbesar di Indonesia--Paguyuban Ngesti Tunggal [Pangestu].
Kemudian apa “pangestu” itu?
Pangestu itu pada dasarnya bukanlah agama dan bukan pula mendirikan agama baru. Dan menolak penempatakn Pangestu sebagai perkumpulam kebatinan sebagaimana terhimpun dalam Himpunan Penganut Kepercayaan—HPK.
Penganutnya lebih suka, Pagestu dikatakan sebagai “Fakultas Psikologi”, tempat ,menempa kejiwaan. Oleh karena itu Pangestu tidak hanya diikuti orang yang mengaku abangan, namun juga dari kalangan yang “saleh” dalamn beragama [Islam atau Kisten]
…Kajian buku ini adalah membentangkan mistisme Pengestu yang menawarkan cara keagamaan yang lebih intens dan memberikan makna bagi kepuasan “rasa” religius di kalangan umat agama.
Dalam praktik agama-agama formal dianggap cenderung menekankan pada syariat penembah [ritual] dan hanya menawarkan kepuasan bersifat rasionalistik semata. Mistisme Pengestu menawari umat beragama praktik-praktik keberagaman yang damai dan toleran, sehingga tidak menimbulkan gejolak social, karena lebih berorientasi ke dalam diri pribadi manusia.
Data buku
JUDUL: Orang Jawa Memaknai Agama
PENULIS: M.Soehadha
PENERBIT: Kreasi Wacana—Kadipaten Kulon KP I/73 Yogyakarta 55132 . Telp. 0274—381682. E-mail : kreasi_wacana@telkom.net website: http://www.kreasiwacana.com/
ISBN : 978-602-8001-09-0
CETAKAN: I—Agusutus 2008
TEBAL: xvi + 232 halaman

[Ajaran Tunggal Sabda]
Dalam kitab Sasangka Jati (1969: 70-90)disebutkan tentang pandangan Pangestu yang mengajarkan bahwa intisari dari ajaran agama Islam, Kristen dan Pangestu adalah sama. Ketiga keyakinan itu mengajarkan tentang syahadat tauhid, bahwa segala ajaran yang disampaikan melalui rasul, sebagaimana termuat dalam Injil pada intinya adalah ajaran tentang keimanan kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Adapun perbedaan syariat atau cara dalam menjalankan ajaran sudah menjadi kebijaksanaan Tuhan. …[hlm 120]

Pangestu Bukan Agama
Meskipun Pangestu memiliki konsep ajaran yang luas yang mencakup tentang Ketuhanan, kitab suci, utusan Tuhan [Rasul], dan ajaran-ajaran tentang jalan hidup, namun Pangestu menolak menyebut bahwa ajaran Pangestu adalah ajaran agama atau ajaran aliran kepercayaan
Apa kitab Sasangka Jati?
Kitab Sasangka Jati itu berisi perintah dan larangan, tetapi perintah dan larangan tersebut pelaksanaannya tidak mengandung hukum wajib bagi mereka yang percaya. Isi dari kita Sasangka Jati diibaratkan sebagai obor yang memberi terang bagi siapa yang masih diliputi oleh kegelapan, dan hanya ditujukan kepada siapa yang membutuhkan, Oleh karena itu pelaksanaan perintah dan larangan sebagaimana diajarkan dalam kitab tersebut, tidak mewujudkan suatu syariat yang lazim dalam agama-agama. Dengan dasar ajaran seperti itu, maka orang Pangestu lebih suka menyebut ajaran-ajaran Pangestu sebagai ajaran kejiwaan, atau dalam istilah mereka sebagai kancah pendidfikan jiwa atau sebagai “fakultas Psikologi”

Posisi
Posisi ajaran Pangestu dan pandangan agama-agama dengan jelas dapat dilihat dalam kitab sasangka Jati [1969:61-65]. Disebutkan dalam kitab tersebut bahwa kedatangan Sang Guru Sejati bukanlah hendak merusak atau mengganti peraturan Tuhan atau agama yang telah ada. Pangestu mengakui bahwa ajaran Kristen dan Islam adalah ajaran yang benar. Oleh karena itu, bagi mereka yang telah memegang syahadat Kristen atau Islam secara benar, dan telah menjalankan syariatnya, maka tidak ada kewajiban lagi bagi mereka untuk melaksanakan ajaran Pangestu [1969:64]

Kata Pengikut Pangestu:
Dokter Suyadi (45 Tahun)
“tidak ada satu orang pun di Pangestu yang tidak beragama. Semua orang yang ikut Pangestu adalah orang-orang yang beragama, entah dia Islam, Kristen, Katolik, Hindu maupun Budha. Demikian halnya saya ini, saya juga orang yang memeluk agama. Jangan menganggap bahwa orang yang menjalan ajaran Pangestu itu adalah orang tidak memeluk agama. Itu keliru. Seringkali orang menganggap bahwa mereka yang mengikuti Pangestu, bukan orang yang beragama. Sebab, orang itu menganggap bahwa Pangestu seperti aliran kebatinan atau aliran kepercayaan”

Kiyai Haji Yang Pangestu:
“ Jangan heran, jika di Pangestu ini terdapat banyak orang yang sangat saleh dan taat dalam menjalankan agama Islam atau Kristen. Bahkan di antara orang-orang Islam yang mengikuti Pangestu itu telah melaksanakan Ibadah Haji. Di Solo misalnya, Anda dapat menjupai orang Pangestu yang “kiyai haji” dan memiliki pondok pesantren. Namanya Haji Hambali. Anda bisa belajar banyak dari beliau, jika ingin mengetahui bagaimana hubungan antara ajaran Islam dengan ajaran Pangestu. Dia itu kalau mengajar di pondok pesanternnya juga mengkaji ajaran-ajaran Pangestu. Tetapi, kalu Anda ingin menjumpai yang bertitel “haji” saja, Anda bisa banyak menjumpai di Yogyakarta.”

Mengepresikan Perasaan Religius:
Para pengikut Pangestu yang menjadikan Pangestu sebagai tumpuan utama dari ekspresi keagmaannya, umumnya menganggap bahwa dalam kehidupan seseorang yang penting bukanlah pada “label” dari agama yang ia peluk, melainkan kesadaran keagamaan. Seorang informan yang masuk dalam golongan ini mengatakan bahwa orang boleh memeluk atau tidak memeluk agama apa pun secara formal, sebab yang penting bagi seseorang adalah kesadaran keagamaan, buka wadahnya. Orang harus mempunyai kesadaran bahwa Tuhan itu ada, Tuhan ada di hatinya. Dari keyakinan dan kesadaran terhadap adanya Tuhan, maka manusia mampu mengembangkan nilai-nilai moral yang baik, terutama dalam berhubungan sesama manusia.

Tuesday, August 26, 2008

BUTIR-BUTIR BUDAYA JAWA

Hanggayuh Kasampurnaning Hurip
Berbudi Bawaleksana
Ngudi Sejatining Becik”
[Tulisan ini terpampang di Sampul depan buku ini]

Dari tulisan ini memberikan gambaran isi buku, bahwa buku ini mengandung butiran mutiara yang mengarah pada sebuah pusaran tekad hakiki manusuia. Bahwa manusia itu dalam hidup dan kehidupannya selalu dinuansaai kenginian luhur, yakni menggapai totalitas kesempurnaan hidup yang dibarengi langkah bijak dalam memberi arti kehidupan itu sendiri. Sebuah makna filosofis yang memiliki makna sangat dalam dan luas bagaikan samudera.
Buku ini merupakan kompilasi dari kata bijak para lelehur dalam wujud “pitutur luhur” , yakni sebuah fenomena pembelajaran kehidupan, dalam rangka mengapai total kualitas hidup.
Seorang-orang Presiden, dan Jendral Bintang Penuh, ternyata sangat lekat dengan citarasa Jawa. Membidikan hati dan bathinnya dengan mengkoleksi butiran Budaya Jawa.
Kendati saat ini berbaring dalam pelukkan Ilahi Robbi, karyanya tak pernah pupus, dan lapuk.
Data buku:
JUDUL : Butir-butir Budaya Jawa
PENYUNTING: Hj. Hardiyanti Rukmana [mbak Tutut]
PENERBIT: Yayasan Purna Bhkati Pertiwi
CETAKAN : VIII—1996
ISBN: 979-8103-00-9
TEBAL: xiv + 205 hlm; 28 cm

Buku ini sebenarnya memiliki privasi yang tinggi untuk kalangan Keluarga Soeharto, ini nampak pada halaman persembahan, tertulis”
Buku ini saya berikan pada anak-anakku sebagai pegangan hidup, 8 Juni 1986.
Buku ini isinya terdiri dari dua dimensi yang utuh, sebagai pegangan hidup keluarga Soeharto, dimensi pertama buku ini berisikan kumpulan butir-butir budaya yang berwujud “pituduh”, dimensi kedua berupa kumpulan butir-butir budaya yang berbentuk “wewaler”
Adapun butir-butir yang dimasud, membentangkan hal-hal sebagai berikut:
  • Ketuhanan Yang Maha Esa
  • Kerohanian
  • Kemanusiaan.
  • Kerbangsaan
  • Kekeluargaan
  • Kebendaan

Butir-butir Budaya Jawa yang diwujudkan dalam pituduh misalnya:

Tuhan itu ada di mana-mana, juga ada pada dirimu, tapi jangan engkau berani mengaku Tuhan

Tuhan itu jauh tanpa ada batasnya, dan dekat sekali tapi tidak dapat bersentuhan

Tuhan menciptkan engkau itu melalui ibumu. Oleh karena itu hormatilah ibumu

Barang sipa suka berbuat kebajikan dan ikhlas melakukan tapa brata [tirakat], akan menerima anugerah dari Tuhan

Barang sipa mengakui adanya Tuhan, tergolong yang sempurna hidupnya

BUTIR-BUTIR YANG MENCERMATI “KEROKHANIAN

Terjadinya dirimu itu melalui adanya Ibu-bapakmu

Adalah Guru sejati yang dapat menunjukkan mana makhluk halus yang menolong dan mana yang mencelakakan

Cakra manggilingan [hidup itu bagaikan roda yang terus berputar]
Jaman itu serba berubah

Tuhan itu berada dalam hati manusia yang suci, karenaya Tuhan disebut pula sebagai hati yang suci

Pertemuan dengan Tuhan terjadi bila dirimu selalau ingat kepada-Nya

Keadaan dunia ini tidak abadi, oleh karena itu jangan mengagung-agungkan kekayaan dan derjatmu, sebab bila sewaktu-waktu terjadi perubahan keadaan Anda tidak akan menderita aib

Keadaan yang ada ini tidak lama pasti mengalami perubahan, oleh karena itu jangan melupakan sesamamu

Barang siapa suka merusak ketenteraman orang lain akan mendapat murka Tuhan, dan akan digugat karena ulahnya sendiri

Tuhan itu berada pada dirimu, danb pertemuan dengan Tuhan akan terjadi apabila engkau selalu ingat kepada-Nya

BUTIR-BUTIR YANG MENCERMATI “KEMANUSIAAN”

Banyak berkarya, tanpa menuntut balas jasa, menyelamatkan kesejahteraan dunia

Manusia sekedar menjalani, diibaratkan laksana wayang

Hati seci mengarah ke keselamatan

Pengetahuan yang benar membuat hati kita senang

Berusaha berbuat baik dengan budi yang sentosa

Kalau ingin selamat (berhasil) harus ada biayanya [pengorbanan]

Baik buruk ada pada diri kita sendiri

Barang siapa lupa akan kebajikan orang lain itu seperti berwatak binatang

Ciri-ciri orang luhur, ialah tingkah laku dan budi bahasa yang halus, keikhlasan hati, dan sedia berkorban, tanpa mendahulukan kepentingan pribadi

Harga diri terletak pada mulut dan budi

BUTIR-BUTIR YANG MENCERMATI “KEBANGSAAN”

Bangsa itu sebagai sarana untuk kuatanya suatu Negara, oleh karena itu jangan mengabaikan rasa kebangsaanmu sendiri agar memiliki bangsa yang berjiwa kesatriya

Yang baik itu kalau mengerti akan hidup bermasyarakat dan bernegara, maka di depan memberi teladan, di tengah menjadi penggerak, di belakang memberi daya kekuatan

Negara itu dapat tenteram kalau murah sandang pangan, sebab rakyatnya gemar bekerja, dan ada penguasa yang mempunyai sidat badil dan berjiwa mulia

Prajurit yang mencintai rakyat jelata, akan disayangi rakyat dalam Negara itu, dan membuat kokohnya Negara dan menjadi perisai negara


Penguasa itu harus membuat tenteram rakyatnya, kalau tidak dapat terjadi rakyatnya akan merebut kekuasaan dalam Negara itu

Jaman penderitaan rakyat akan hilang kalau sudah ada orang yang dapat menghilangkan hal-hal yang menyulitkan



Thursday, August 7, 2008

REORIENTASI DAN REVITALISASI :PANDANGAN HIDUP JAWA.

Orang sering mencirikan budaya Jawa itu penuh toleran dan akomodatif, oleh karenanya Jawa tidak pernah memiliki sikap yang serta merta menolak, namun lebih dari itu, segalam sikap akan melalui proses pengedapan. Termasuk pula dalam aspek kehidupan religius. Jawa sangat erat dengan “sinkretisme” yakni pola laku mengkombinasikan sebuah keyakinan. Oleh karenanya ditengarai bahwa pandangan budaya Jawa itu selalu ditandai hal-hal berikut:

  • Religius
  • Non doktriner
  • Toleransi
  • Akomodatif
  • Optimistik

Akhir seorang-orang bernama Suyamto, Insinyur yang saat itu sebgai Ketua Umum Yayasan Jatidiri, menuangkan gagasannya setelah melewati penghayatan apa yang dilihat dan didengar, terkait dengan budaya Jawa. Gagasan ini, kini telah menjadi buku, dengan mengmbil judul Reorientasi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa. Sesunggah nya gasaan awal ini berawal dari sebuah permohonan ceramah di hadapan 2000 anggota PERMADANI—[Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia] yang sedang memperingati hari ulang tahun kedelapan [sewindu].
Buku ini adalah rekaman perenungan tenteng berbagai aspek kebudayaan Jawa, sebagai tindak lanjut tanggapan-tanggapan atas makalah pada Konggres Kebudayaan Nasional di Jakarta, tanggal 29 Oktober sampai 3 Nopember 1991, terutama mengenai “tantularisme” dan kaitannya dengan sikretisme Jawa.
Data Buku:
JUDUL: Reorientasi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa
PENULIS : Sujamto, Ir
PENERBIT : Dahara Prize. Jl. Dorang 7 Phone 23518 Semarang.
CETAKAN : II Edisi revisi Nopember 1992
TEBAL : 127 Hlm

Gagasan awal buku ini, ingin melihat lebih dalam tentang pola laku itu, bahkan mengejawantahkan terminologi baru paham Jawa yang dirasa lebih tepat, yakni “Tantularisme”. Orang tentunya akan dingatkan oleh pemikiran ini karena “Tantular” adalah seorang-orang empu yang memiliki ketajaman pikir dan kearifan.
Buku ini membedakan, antara “tantularisme” dan "sikretisme Jawa", kendatipun memiliki kedekatan
Kita ketuhui saat ini penggunaan terminology sikretisme dalam ranah budaya Jawa, sangat deras. Namun acapkali memiliki multi tafsir. Mulai dari istilah ‘Sinkretisme”, “sinkretisme agama”, atau “sikretisme Jawa” untuk menunjukkan gejala atau kecenderungan yang menonjol dalam religiositas Jawa. Sisi lain istilahn ini sebagai penggantinya dipadankan dengan “mosaic” , “Coalition”, “the religion of Java” atau “agama di Jawa, atau sekedar istilah “percampuran” atau “vermenging” atau “agami Jawi"

SINKRETISME:Jika merujuk istilah-istilah yang sedang berkembang terkait dengan sinkretisme, seperti vermenging, blending, mosaic, amalgamation dan lain-lain itu jelas lebih berkonotasi pada proses dan bentuk ketimbang pada semangat yang mendasari proses itu. Sinkretisme memang dapat kita pandang dari segi proses dan bentuk. Tetapi sinkretisme adalah juga semangat. Dan terhadap gejala yang terjadi dalam religiositas Jawa ini, barangkali kita akan memperoleh gambaran yang lebih mendekati kenyataan kalau kita melihatnya dari semangat. Dilihat dari segi ini, akan sangat jelas bahwa semangat yang ada dalam religiositas Jawa itu yang menonjol bukanlah semangat sikretisme. Bukan semangat untuk membentuk sesuatu aliran atau system kepercayaan ataupun agama yang ada. Semangat yang amat menonjol adalah toleransi yang hampir-hampir tanpa batas, yang dilandasi oleh kayakinan orang Jawa pada umumnya bahwa “sedayaagami punika sami” [semua agama itu baik]
TANTULARISME:
Arus utama yang cukup menonjol sejak zaman dahulu adalah semangat yang menghormati semuaagama, semangat yang tidak memandang hanya agama dan kepercayaan sendiri yang benar, semangat yang bersedia mengakui kebenaran hakiki, dari mana pun sumbernya, emangat yanag memandang agama lain hanya merupakan jalan lain menuju tujuan yang sama, semangat yang tercakup dalam ungkapan Empu Tantular: Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Semangat ini, untuk menghormati Empu Tantular, dinamakan Tantularisme

PERBEDAAN TANTULARISME DAN SINKRETISME
Melihat perbedaan tantularisme dengan sikretisme hanya dari proses atau wujud gejalanya, barangkali memang agak sulit. Persamaan dan perbedaan antara sikretisme dengan tantularisme pernah dibedakan oleh penulis buku ini, dengan ungkapan bahasa jawa:
yen dinulu mirip rupane, lamun ginigit beda rasane” [kalau dilihat mirip rupanya, kalau digigt beda rasanya]
Dilihat sepintas dari luar, wujudnya sering mirip, tetapi kalu dihayati seksama dari dalam, akan nyata bedanya. Pokok-pokok perbedaan antara keduanya adalah sebagai berikut:

  1. Sinkretisme berangkat dari keinginan untuk memadukan dua [atau lebih] system keyakinan, kepercayaan atau agama menjadi satu system baru yang unsure-unsurnya berasal dari sistem-sistem lama tersebut. Sedangkan tantulisme berangkat darti keyakinan bahwa system-sistem itu adalah jalan-jalan yang berbeda menuju kepda tujuan yang sama, yaitu Tuhan
  2. Hasil akhir Sinkretisme adalah terbentuknya sustu system agama atau kepercayaan baru, sedangkan tantularisme tidak dan tidak ingin membentuk agama ataupun system kepercayaan baru
  3. Sinkretisme tidak dapat melepaskan dirinya dari sektarianisme dan disadari atau tidak, akan beranggapan bahwa “system agama atua kepercayaannya itulah yang paling benar”, kare merupakan penggabungan dari unsur-unsur pilihan dari berbagai system yang ada. Tantularisme sama sekali bebas dari sektarianisme dan eksklusifisme, karena memang tidak membentuk “wadah” tersendiri dan tidak ingin menciptakan “pagar” atau pun “kurungan” yang baru. Kebenaran itu bersifat [meminjam istilah Abdurrahman Wahid] lintas batas. Segala yang universal itu bersifat lintas batas
  4. Sinkretisme bersifat divergen sedang tantularisme bersifat konvergen
  5. Sinkretisme tidak dapat melepaskan diri dari kenisbian pandangan tentang kebenaran, sedangkan tantularism,e bertitik tolak dari pandangan tan han dharma mangrwa, kebenaran hakiki itu bersifat tunggal dan universal. Di manapun ia berada, kebenaran adalah tetap kebenaran. Diakui atau pun tidak
  6. Sinkretisme yang menghasilkan system agama dan kepercayaan baru itu akhirnya juga menciptakan ajaran-ajaran bartu dan doktrin-doktrin baru. Tantularisme tidak menciptakan ajaran baru dan sepenuhnya bersifat non doktriner
  7. Sesuai dengan sifatnya yang sektaris, lingkup wawasamn Sinkretis, lingkup wawasan sinkretisme biasanya terbatas [contoh : aliran-aliran yang mengikat diri pada sifat kejawen], sedang lingkup wawasan tantularisme adalah universal, bebas dari dimensi ruang dan waktu.

Tuesday, July 15, 2008

SERAT JAYABAYA

Kita pernah mengenail Jhon Nisbit, seorang futurolog yang meneropong “Megatrand 2000”, kemudian Avlin Toffler, adalah manusia canggih abad ini, piawai melihat masa depan, dengan teropong rasionalnya. Pemikiranya saat ini diacu dunia, merupakan referensi setiap seminar, bahkan digunakan sebagai telaah renca masa depan siapa saja.
Bagaimana dengan jagad budaya Jawa ?, Ternyata Jawa memiliki kekayaan yang yang sama terkait dengan kemampuan meneropong masa depan. Justru Jawa telah mendahului, kira kira diabad 12 naluri itu telah teruji. Jawa mampu melahiran pandangan Jernih dan Bijak, itu semua eterdokumentasi dalam “serat Jaya Baya”. Ketika itu melalui perenungan spiritual, dibukalah cakrawala dunia, bahkan seorang-orang Prabu Jayabaya telah mencapai “Maqam ruhani”. Dia adalah manusia yang dibekali dengan kekuatan ruhani, dan mengkuak tanda-tanda Zaman. Hasil perenungannya kini terdokumentasi pada Serat Jangka jayabaya dan Kitab Musasar.
Namun yang menjadi Kendal kita, adalah kemampuan memahaminya, karena karya-karya indah itu ditulis dalam bahasa simbolik. Untuk memahaminya diperlukan tingkatan pencermatan yang tinggi, dan itu pun harus didukung daya intepretasi yang tinggi.
Detil Buku:
JUDUL: Serat Jayabaya
PENULIS : M.Hariwijaya & Ratih Sarwiyono
PENERBIT: Media Wacana. Jl. Gambiran UH/271 Yogyakarta 55161. Telp. 087838230821
CETAKAN: I-V penerbit Niagara 2004. Edisi Revisi Juli 2008
ISBN :978-979-99940-4-2
HALAMAN: 145 x 210. 136 hlm

Buku ini menguraikan ramalan Jayabaya pada jaman Kaliyuga atau jaman kerusakan, di mana terjadi jaman yang nilai-nilai sosialnya menjadi serba terbalik, dan tatana alam menjadi rusak.
Kaliyuga bagi seorang-orang yang memahami sejarah secara spekulatif adalah suatu siklus sejarah. Setelah jaman ini akan hadir jaman Kretayuga atau ada yang menyebutkan Kalakreta. Bahkan ada yang mengatakan, syarat memasuki jaman Kretayuga sekuensialnya harus melewati jaman Kaliyuga. Kretayuga adalah suatu jaman keemasan, jaman gemilang, jaman yang digambarkan oleh dhalang dengan kalimat gemah rimpah loh jinawi tata tentrem kerta raharja.
Jayabaya, oleh rakyat Jawa diletakkan dalam jajaran Ratu Adil yang pernah memimpin tanah Jawa. Ia ditasbihkan bersala dari kalangan Wali Alllah.
Menurut teropong pikirannya, perjalana jaman Kaliyuga menuju jaman Kretayuga, akan ditandai munculnya Satria Piningit.
Dalam buku ini dipaparkan pula tujuh kepemimpinan Indonesia, antara lain:
  1. Satria Kinunjara Murwa Kuncara
  2. Satria Mukti Wibawa Kesandung Kesampar
  3. Satria Jinumput Sumela Atur
  4. Satria Lelana Tapa Ngrame
  5. Satria Piningit Hamong Tuwuh
  6. Satria Boyong Pambukaning Gapura
  7. Satria Pinandita Sinisihan Wahyu


Friday, July 11, 2008

MENYAMBUT SATU DASA WARSA PAGUYUBAN CAHYA BUWANA

NDerek Dawuh KAKI SEMAR
Zaman ini memungkinkan tertibnya pendokumentasiaan, melalui buku seorang-orang, atau organisasi akan lebih rapi terkait soal dokumentasi.
Sebuah dokumentasi yang amat berharga telah dibuat oleh sebuah Paguyuban Cahya Buana, yakni sebuah paguyuban penghayat kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Buku ini dibuat terkait dengan momenten organisasinya, yakni dalam rangka 1 Dasa Warsa Paguyuban Cahwa Buwana. Organisai ini memposisikan dirinya bukan oranisasai politik, dan akan “Nguri-uri Kebudayaan Jawi’ berdasarkan Pieulang dan Dhawuh Kaki Tunggul Sadba Jati Daya Among raga [Kaki-Semar]
Detil Buku:
JUDUL: nDerek Dawun KAKI SEMAR
PENULIS: Tjaroko HP. Teguh Pranomo
PENERBIT:Kuntul Press. Gombang, [Depan Puskemas], Tirtonadi, Mlati Sleman, Yogyakarta. HP. 08175423046
ISBN: 978-979-16502-8-1
CETAKAN: 2008
HALAMAN: Xl+262 hlm; 14x20 cm
Buku ini menjelaskan secara detil Jati diri Paguyuban Cahya Buwana, yang memposisikan sebagai organisasi non politik dan meletakkan ranah pengabdiannya dalam memetri nguri-uri naluri tatanan budaya Jawi “.
Seperti kata sambutan yang diberikan oleh salah satu penghayatnya, adalah seorang-orang penghayat yang masih belia, Ade Styawan Teguh Setyhyarso, mengatakan,
“Seharusnya hal ini menjadi cambuk bagi generasi muda agar lebih menyadari budaya sendiri, lebih arif dan bijaksana dalam neghargai warisan budaya leluhur yang generasi sebelum kita telah menjaganya secara turun temurun dan dengan susah payah. Apa jadinya bila Kejawen diaku keberadaanya oleh Negara lain …?!?!

Kejawen apa itu?. Menurut buku ini,
Kejawen adalah bukan agama, bukan sekte baru, bukan aliran sesat, tetapi kejawen adalah tatanan kehidupan yang selaras seimbang, baik dengan Tuhan Yang Maha Esa, leluhur, alam dan sesame manusia.
Kejawen adalah salah satu bentuk sederhana dari manusia untuk mengerti dan memahami dari mana manusia itu bersal [sangkan paraning dumadi] dank e mana manusia itu harus menyembah.
Buku ini juga mencantumkan visi, misi dan serta memuat lengkap anggaran dasarnya. Dalam menjalankan aktivitasnya buku ini juga mencatumkan secara lengkap tempat-tempat yang dapat digunakan untuk ritual. Tempat itu menyebar di seluruh Indonesia.

VISI :

Paguyuban “Cahya Buwana”
“Mamemayu Hayuning Bawana, yaitu Mewujudkan Keselarasan Alam Semesta dan Mempertahankan Keindahannya”

MISI:
Paguyuban “Cahya Buwana”

  • Menelusuri Tatanan dan Nilai-nilai Tradisional Kebudayaan Jawa
  • Mempertahankan Kelestarian Kebidayuaan Jawa dan Mengembangkannya Baik secara fisik maupun Spiritual
  • Mengembangkan Mandalagiri Srandil sebagai Tempat Suci

Kegiatan ritual Paguyuban “Cahya Buwana” meliputi:

  1. Sarasehan Agung Kemil Wage Malam Jumat Kliwon di Padepokan Agung manlagiri Srandil dan atu di petilasan Kaki Semar di Gunung Srandil
  2. Larungan sesaji kepada Kanjeng Ibu Ratu Kidul Sekaring Jagad, setiap hari jumat Kliwon pagi di Srandil, pantai Laut Selatan
  3. Peringatan Tahun Baru Jawa 1 Sura
  4. Hari Arwah setiap tanggal 4 April
  5. Hari Tumuruning Wahyu setiap tanggal 5 Agusutus
  6. Hari Ulang Tahun Paguyuban “Cahya Buwana” setiap tanggal 29 Nopember
    Melakukan ziarah dan atau napak tilas ke lokasi dan atau tempat sesuai petunjuk atau dhawuh beliau Kaki Semar

Buku ini juga membahas detil siapakah sebenarnya, Kaki Semar itu ? Dalam posting tidak diungkap secara lengkap, sebagai penghargaan karya penulisnya. Namun untuk piwulangnya dipaparkan sebagai berikut:

PIWULANG DAN DHAWUH-DHAWUH
1. Pemahaman kepada Gusti Kang Murbeng Dumadi
2. Tatanan Paugeraning urip
3. Pemahaman mengenai “adil”
4. Pengertian nasib dan takdir
5. Pengertian kodrat lan apes
6. Pemahaman mengenai hidup
7. Pengertian akherat
8. Tata cara mengesthti [samadi]
9. Pengertian Aji mumpung
10. Pemahaman tentang tirakat atau rialat
11. Ramalan Jayabaya atau Jaman Edan
12. Pemahaman Hukum Alam
13. Hidup bermasyarakat atau urip bebrayan
14. Kiasan atau sanepa dari sesaji
15. Pemahaman sangkan paraning dumadi
16. Pemahaman manunggaling kawula lan Gusti
17. Pemahaman kasedan jati
18. Pemahaman mengenai “mampir ngombe”
19. Pemahaman mengenai ndonga
20. Pemahaman mengenai ati nurani
21. Pemahaman mengenai “karma”
22. Mengenai “lakum dinukum waliyadin

[catatan : mengenai piwulang atau dhawuh dari hal-hal di atas dapat dibaca pada buku Wedharan Dhawuh Kaki Semar edisi tahunan yang dfiterbitkan setiap awal tahun baru Jawa . Buku tersebut di cetak dan diterbitkan oleh paguyuban “Cahya Buwana”]

Thursday, July 10, 2008

DUNIA BATIN ORANG JAWA

Ternyata bangsa kita memiliki khasanah budaya yang dikagumi oleh banyak manusia manca negara. Tak kurang seorang-orang bernama Alexander Pushkin, sastrawan besar, penyair kelas dunia [1779-1837] sempat mengisahkan kembara “iamginernya tentang “Jawa’ dalam sebuah puisi terbaiknya yang berjudul Antiar.
Demikian pula dalam The Triumphant Love [1881] karya Ivan Turgenev, Jawa pernah mampir dibenaknya, terbukti dia mengkreasi karya besar dengan menggambarkan eksotisme Nusantara [termasuk Jawa] sebagai kawasan yang samar, misterius, ajaib.
Persoalannya, mungkin saat ini banyak orang jawa yang mulai melupakan pernik-pernik budaya Jawa kendati banyak orang di belahan benua lainnya “ngudi kaweruh Jawa” [sedang mencermati dengan seksama budaya Jawa]. Buku ini berusaha mendekatkan kembali orang, kepada budayanya, agae tidak kehilangan jati dirinya. “Wong Jawa lali Jawane” [orang Jawa yang tidak kenal lagi hakikat dirinya].
Semuanya telah ditinggalkan, dilupakan, halusnya dipinggirkan. Banyak orang Jawa yang mulai melupakan apa itu peribahasa. Apa yang disebut dengan paribasan, bebasan, saloka, pepindhan, sanepa, dan isbat. Akibatnya, tidak seorang-orang acapkali ditertawakan ketika berkata, atau mendengar kata “alon-alon waton kelakon”, “golek banyu apikulan warih, golek geni adedamar.
Buku ini ingin menjembatani, agar orang Jawa tidak kehilangan eksistensinya. Oleh karenanya buku ini mengetengahkan pandangan hidup, atau dunia batin orang Jawa dalam berbagai unen-unen. Dan dalam unen-unen itu terkandung hakikat budaya, sebuah kecermatan yang diinduksi dari laku orang orang jawa berabad-abad. Ini merupakan pundit-pundi khsanah Jawa.

Detil Buku
JUDUL: Dunia Batin Orang Jawa
PENULIS Iman Budhi Santosa
PENERBIT : RIAK-Riset Informasi dan Arsip Kenegaraan. Jalan Mangkuyudan MJ III/216 Yogyakarta.
ISBN: 978-979-15832-8-5
CETAKAN : I April 2008
HALAMAN: Viii + 144

Sekelumit isi :

Secara bersamaan juga diposting di blog Bandar Kata Bijak, karena memiliki resonansi maksud yang sama]

Aja dumeh
Artinya: “jangan sok atau mentang-mentang”,
Terjemahan bebsanya adalah jangan suka memamerkan apa yang dimiliki untuk menekan, meremehkan, menghina orang lain. Misalnya : aja dumeh sugih [jangan mentang-mentang kaya], dan menggunakan kekayaannya itu untuk berbuat semena-mena, sebab harta kekayaan itu tidak lestari dan sewaktu-waktu dapat hilang [ tidak dimiliki lagi]

Aja nggege mangsa
Artinya:”jangan memaksakan waktu”
Jangan memaksa memperoleh hasil sebelum waktunya, karena apa yang didapat pasti tidak akan memuaskan. Misalnya, untuk mmendapatkan mangga yang manis perlu menunggu satu tahun. Apabila memetiknya kurang dari satu tahun pasti rasanya kecut [masam]

Aja ngomong waton, nanging ngomongo nganggo waton
Artinya: “jangan berbicara asal bicara, tetapi bicarah menggunkan landasan yang jelas.” Peringatan atau nasihat agar di dalam berbicara [berkomunikasi] perlu menggunkan tata-krama yang baik. Juga harus jelas apa yang akan disampaikan dan cara penyampaiannya supaya tidak menimpulkan salah faham bagi yang diajak bicara

Ana sethithik dipangan sethithik
Artinya::ada sedikit dimkan sedikit”
Salah satu semboyan wong cilik Jawa yang sangatv terkenal dalam menjalani tirakat [ascestisme] dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, missal sehari punya penghasilan seribu rupiah yang dipakai untuk hidup maksimal harus sembilan ratus rupiah. Dengan demikian, untuk bekal hidup esok hari amasih punya seratus rupiah

Becik ketitik, ala ketara
Artinya:”siapa berbuat baik akan terbukti [diakui], siapa berbuat buruk akan kelihatan sendiri”. Anjuran agar siapa pun jangan takut berbuat baik. Meskipun awalnya belum tampak, pada saatnya pasti akan menemukan maknanya dan dihargai. Dan manakala berbuat buruk, sepandai-pandainya menutupi, akhirnya akan ketahuan juga.

Bener luput, ala becik, begja cilaka. Mung saking badan priyangga
Artinya: “bener salah, baik buru, beruntung celaka, berasal dari badan sendiri.”Salah satu inti dari ajaran kejawen yang menyatakan bahwa apa yang diperoleh seorang –orang lebih merupakan hasil [kausalitas] dari perbuatannya sendiri; bukan semata-mata akibat [pengaruh] perbuatan orang lain.

[Wusana kata: Masih banyak unen-unen di buku ini kurang lebih 141 unen-unen, oleh karenanya layak buku ini sebagai pundi-pundi khasanah Jawa]


Monday, July 7, 2008

CITRA DIRI ORANG JAWA

Seorang-orang yang dikatakan memiliki integritas kepribadian, manakala orang itu memiliki tingkatan komitmen yang tinggi terhadap budaya. Dengan kata lain “Widya Darma Budaya” itu tercermin pada sebuah “gegayuhan hayati” atau niatan insan untuk meningkatkan atau mempertebal rasa percaya diri (self confidence)
Gegayuhan hayati itu meliputi; Wisma, Wanita, Curiga, Turangga, Kukila, apabila seorang-orang telah melengkapi dirinya dengan kriterium tersebut, berarti telah memasuki gambaran idial citra dirinya.
Sebuah buku yang sarat dengan makna dan memberikan uraian tentang Wisma, Wanita, Curiga, Turangga, Kukila, sangat detil. Seorang-orang dinyatakan memasuki labirinnya idealitas itu, tidak hanya memenuhi secara minimal, dalam arti menyediakan/memenuhi, wisma, misalnya. Ternyata lebih dari itu.
Ketika orang dinyatakan telah mampu memiliki wisma, tentunya juga harus mengenali lebih dalam makna yang terkandung adalam “wisma” itu sendiri. Mulai dari makna filosofi, hingga makna pragmatignya.
Buku yang dikreasi Suryanto Sastroatmojo ini, membedah makna hingga akar-akarnya, ternyata idealitas yang tersimpan dari, Wisma, Wanita, Curiga, Turangga, Kukila , tidak hanya menyediakan namun terdapat “kata arif yang tersembunyi di balik kata itu”
Detil buku:
JUDUL : Citra diri Orang Jawa
PENULIS: Suryanto Sastroatmojo
PENERBIT: Narasi. Jl. Irian Jaya D-24 Perum Nogotirto Elok II Yogyakarta 55292 Telp. 0274-7103084.
CETAKAN I-April 2006
ISBN: 979-7564-80-0
HALAMAN: viii+ 136 hlm. 13,5 x 19,5
WISMA:
Wisma dimaknakan sebagai papan, idealitasnya jika sebuah rumah tangga dijamin oleh tempat tinggal telah mencapai idialitas itu, dan citra diri seorang akan’ternamai”. Namun adapula yang memberikan simbolis sebagai kemapanan, atau seorang-orang yang telah mencapai pada tataran “establish
Buku ini sangat luarbiasa dalam mencermati wisma, mulai pemikiran harmonisasi hingga persenyawaan antara alam dengan zaman, alam dengan insan, alam dengan leluhur.
Papan juga dimaknakan sebagai tempat orang berdiam, maka pemeilihan tempat/tanah harus diperhatikan.
Tanah-tanah terbaik.
Di dalam “almanac Dewi Sri 1976” tertulis, bahwa rumah yang baik harus berdiri di tanah yang baik. Atau sebaliknya, di atas tanah yang baik harus berdiri rumah yang baik.
Tentunya hala ini mengkondisi bahwa rumah dan tanah hatus memiliki pertimbangan ideal.
Terdapat 6 jenis tanah yang baik menurut primbon Jawa; 1. Gasik, yaitu tanah yang tidak berlumpur dalam musim hujan dan tidak ‘nelo’ [belah] pada musim kemarau. 2. Eloh, yaitu tanah yang gemuk, dan struktur tanah ini produktif untuk tanaman. 3.Njujugan, tanah yang letaknya strategis, sehingga bangunan di atasnya akan memilki dampak optimistic. 4. Reja, yaitu pada tempat yang ramai, misalnya dipinggir jalan yang besar, dekat persilangan kutub-kutub jalan dan dikenal, 5.Ayem, yakni tetnteram; dan biasanya suasana demikian berpengarus besar terhadap iklim-cuacanya. 6. Lempar, yaitu tanah nan luas dan rata.
Primbon yang lain memmuat juga tanah yang disebut ideal yakni:
  1. Siti Arjuna Wiwaha
  2. Siti Langu Purwala
  3. Siti Sosong Buwana
  4. Siti Bojanalaya
  5. Siti Tega warna
  6. Siti Sri Kamumule
  7. Siti Bathari
  8. Siti Manikmaya
  9. Siti Bathara

[Dalam posting ini tidak mungkin kami ungkap seluruhnya, misalnya bentuk-bentuk rumah Jawa, Falsafah Tri Hita Karana, Gradasi rumah dan Preferensinya]

Warto Selaras

Google