Buku ini mendiskripsikan ajaran kearifan Jawa, yang di mutakhirkan sehingga bercita-rasa kekinian. Buku ini sekaligus menjawab peroslan-persoalan manusia dengan kembali menjalani ajaran falsafah para leluhur yang adiluhung.
Buku ini mendiskripsikan ajaran kearifan Jawa, yang di mutakhirkan sehingga bercita-rasa kekinian. Buku ini sekaligus menjawab peroslan-persoalan manusia dengan kembali menjalani ajaran falsafah para leluhur yang adiluhung.
Sebuah refleksi yang melihat dari dimensi "Semar & Pandawa", untuk menggrekan manusia dalam tujuan-tujuan yang efektif, dan efisien. Melalui cerminan tokoh Semar dan Pandawa orang dapat digerakkan kepada sebuah idealisasi pencapian tujuan, tanpa merasa tertekan. Karena melalui tokoh-tokoh itu secara tidak langsung akan terbangun sebuah etos yang diliputi oleh citarasa kearifan.
Pemahaman yang keliru kini justru marak, dan secara tidak terasa telah mendarah daging, misalnya seorang-orang mengartikan modernitas. Kini makna modernitas telah dijadikan jargon untuk mengganti sesuatu yang dianggap "lama", maka modernitas cenderung dipakai untuk menggilas apa saja yang dianggap lama. Tradisi yang tumbuh di masa lalu, termasuk nilai-nilai budaya yang telah lama ada, tanpa ampun tergilas oleh kesalahan memaknai nilai modernitas. Kekeliruan pemaknaan itu sekaligus memberikan stigma negatif kepada siapa saja yang tetap mempertahankan nilai tradisi dan budaya. Indikasi fisik telah menunjukkan kepada kita, bahwa bentuk bangunan rumah yang ada di Jawa, juga terinfeksi oleh pemaknaan itu. Kini bentuk bangunan rumah Jawa sulit diketemukan, apakah bentuk Joglo, atau pun limas, telah terlibas. Dulu di daerah pedesaan, jenis rumah Jawa seperti Joglo, dan limasan, masih bertebaran, kini yang kita jumpai justru berbalik. Rumah dengan model/ornamen bergaya Spanyol, Amerika, atau Eropa, sangat mewarna, dan orang merasa sangat ketinggalan, atau mungkin disebut kurang gaul, jika mempertahankan bentuk rumah yang mentradisi.
Perilaku orangpun juga berubah secara dratis, kini orang telah meninggalkan tardisinya, dan kini juga kehilangan karakternya. Tradisi adat Jawa-seperti selapan, atau tedhak siten pada upacara kelahiran, siraman atau midodareni pada upacara perkawinan, atau pendhak sepisan, nyewu pada upacara kematian--sudah mulai banyak ditinggalkan atau dilupakan.
Seorang-orang bernama H. Soemarno Soedarsono dalam sebuah kolom opini Harian Kompas yang berjudul Jati diri Bangsa yang menyoroti konsep jati diri dari perspektif etika moral, yaitu hati nurani. Soedarsono menulis kata-kata bijak untuk menekankan tentang bahaya hilangnya jati diri ini. "When character is lost, everything is lost".
Kata bijak ini ternyata merupakan energi bagi tiga orang wanita yang membidani lahirnya buku ini. Masing-masing; Dra. M.Y. Dwi Hayu Agustini MBA,- Ir.M.I. Retno Susilorini, MT- dan Yovita Indrayati, SH.,M.Hum. Ketiganya adalah pengabdi pada Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Keprihatinannya melihat realitas bias dalam budaya bangsa, menggetarkan naluri tulis menulis, maka melalui pencermatannya dengan merefleksikanbudaya Jawa-meneropong retak-ratak buadaya. Dengan cermat, ketiga wanita ini menengarai, bahwa budaya Jawa mulai ditinggalkan. Keprihatinan ini nampaknya cukup beralasan, karena indikasinya nampak jelas.
Indikasi itu adalah:
Data buku:
JUDUL: Cermin Retak Budaya Bangsa--Sebuah refleksi dengan pendekatan budaya jawa
PENULIS: Dra. M.Y. Dwi Hayu Agustini = Ir. M.I. Retno Susilorini, MT. = Yovita Indrayati, SH., M.Hum
PENERBIT: Universitas Atma jaya Yogyakarta. Jl. Babarsari No. 44. Kotakl Pos 1086. Telp. 0274-487711. Yogyakarta 55281
ISBN: 979-9243-79-3
CETAKAN: Pertama 2007
Tradisi ruwatan itu sesungguhnya sudah lama ada di Jawa, hingga saat ini masih kerap dilakukan bahkan sudah mendarah daging. Setiap problematika kehidupan yang muncul dan membutuhkan solusi, ruwatan selalu dirujuk untuk mengatasi. Buku ini mendokumentasikan apa dan mengapa ruwatan itu, yang jelas buku ini ikut "nguri-uri" khasanah budaya Jawa.
Kaweruh begja, untuk memahami makna terdalam dari kebahagiaan orang tidak serta merta langsung paham apalagi "ces-pleng", semuanya melalui tahapan-tahapan istimewa. Tahapan ini pernah ditilik oleh seorang-orang yang piawai, dan kemudian hasil tilikan itu di wujudkan dalam tulisan, sebagian dari tilikan itu saat ini berwujud buku, yang dieberi judul"Kawruh Begja", orang juga sering menyebut, bahwa menggapai "Kawruh Begja" itu harus dilatari dengan perenungan-perenungan. Banyak pula yang mengatakan harus acapkali melakukan refleksi. Saat ini kita sedang menikmati hasil refleksi Ki Ageng Suryamentaram. Sebuah buku yang memposisikan dirinya sebagai bacaan penenang jiwa, warisan budaya leluhur.
Wayang itu di dalamnya sarat makna, bukan hanya hasil kreasi budaya, namun kandungan filsafati yang tinggi, bahkan mengandung energi optima yang seakan-akan menjadi daya bangkit motivasi yang tinggi. Dari wayang banyak pula pembelajaran, memang sesungguhnya wayang lahir sebagai latar atau stadion yang amat luas untuk melakukan olah pikir sekaligus olah batin. Tokoh-tokoh wayang acapkali diambil sibagai simbul atau jargon-jargon, dan tidak jarang orang dalam berperilaku dituntun seolah-olah sama dang sebangun dengan perwatakan wayang itu sendiri. Tidak ada yang salah, karena dalam wayang tersimpan ratusan model perwatakan manusia.