Tuesday, May 25, 2021

BUKU CANDI BOROBUDUR YANG TERKOLEKSI


Sejatinya kita ini manusia yang memilki pikiramn atas karunia Tuhan, karena kedahsyatan ciptaan yang berupa gumpalan otak yang sarat dengan saraf, memungkinkan manusia selancar dengan pikirannya. Ketika manusia berselancar dengan pikiran tentu akan menumbuhkan berbagai gagasan atau ide yang kadang dinavigasi oleh imajinasinya. Dari selancar itulah timbul pula piliha-pilihan, pilihan hidup bahkan pilihan keyakinan.

Seperti saat ini orang akan memilih keyaikinannya, dia memeluk agama, kemudian menggunakannnya sebaga bintang pengarah kehidupan. Di Jawa misalnya bertahun-tahun tumbuh kembang berbagai keyakinan, ini nampak dari aterfak sebagai peta jalannya berupa peninggalan, misalnya candi-candi yang bertebaran di Wilayah Nusantara utamnya di Jawa. Kita tidak akan bisa mudah berbohong nenek moyang kita telah meninggalkan bukti itu seperti Jandi Borobudur. Peninggalan itu menggmbarkan kepada kita semua bahwa alam pikiran nenek moyang kita itu tidak remeh temeh, membuat sesuatu itu dengan cakupan canggih, milanya tikat presisi, lalu lingkaran yang memeilki radiu canggih, bahkan dari sisi arsitektur. Berkaitan itu Joglo Javanologi sangat mengaggumi karya adiluhung nenek moyang, dengan kesadaran tinggi ingin mengunggah buku buku Candi Borobudur yang lama belum sempat diunggah. Unggahan ini akan mengalami update terus menerus ketika menemukan buku terkait dengan candi Borobodur. Juga saya sampaikan bahwa banyak seorang-orang yang mengolek buku-buku terkait dengan candi ini, yang saya ketahui adalah Kak Sudjono Adimuljo, dan bisa dicolek di face booknya.

Monday, November 4, 2013

JAWA PUNYA KALENDER : (Isyana dewa)

Kontributor Isyana dewa
Tidak semua suku/bangsa di dunia, bahkan sangat sedikit yang,  memiliki kalender sendiri, dan Jawa termasuk di antara yang sedikit itu. Kalender Jawa diciptakan oleh mPu Hubayun, pada tahun 911 Sebelum Masehi, dan pada tahun 50 SM Raja/Prabu Sri Mahapunggung I  (juga dikenal sebagai Ki Ajar Padang I) melakukan perubahan terhadap huruf/aksara, serta sastra Jawa. Bila kalender Jawa diibuat berdasarkan 'Sangkan Paraning Bawana' (=asal usul/isi semesta), maka aksara Jawa dibuat berdasarkan "Sangkan Paraning Dumadi" (=asal usul kehidupan), serta mengikuti peredaran matahari (=Solar System). 
Pada 21 Juni 0078 Masehi, Prabu Ajisaka mengadakan perubahan terhadap budaya Jawa, iaitu dengan memulai perhitungan dari angka nol ('Das'=0), menyerap angka 0 dari India, sehingga pada tanggal tersebut dimulai pula kalender Jawa 'baru', tanggal 1 Badrawana tahun Sri Harsa, Windu Kuntara ( = tanggal 1, bulan 1, tahun 1, windu 1), hari Radite Kasih (-Minggu Kliwon), bersamaan dengan tanggal 21 Juni tahun 78 M. Selama ini, banyak pendapat yang mengatakan, bahwa Prabu Ajisaka ialah orang India/Hindustan. Tetapi hal tersebut nampaknya kurang tepat, dengan fakta-fakta kisah dalam huruf Jawa, bahwa :1. Pusaka Ajisaka yang dititipkan kepada pembantunya berujud keris. Tak ditemukan bukti-bukti peninggalan  keris di India, dan keris adalah asli Jawa.2. Para pembantu setia Ajisaka sebanyak 4 (empat) orang (bukan 2 orang seperti yang banyak dikisahkan), dengan nama berasal dari bahasa Kawi, atau Jawa Kuno. Mereka adalah :    a. DURA (dibaca sesuai tulisan), yang dalam bahasa Kawi berarti anasir alam berupa AIR. Bila dibaca sebagai Duro     (seperti bunyi huruf O pada kata " Sidoarjo"), artinya = 'bohong',  sangat jauh berrbeda dengan aslinya.    b. SAMBADHA (dibaca seperti tulisan), yang dalam Bahasa Kawi berarti anasir alam yang berupa API. Bila dibaca dengan cara kini, iaitu seperti O pada kata Sidoarjo, akan berarti "mampu" atau 'sesuai'.    c. DUGA ( dibaca seperti tulisan), dalam bahasa Jawa Kuno berarti anasir TANAH, namun bila dibaca dengan cara kini, akan berarti "pengati-ati' atau 'adab'.   d. PRAYUGA (dibaca seperti tulisan), dalam Bahasa Jawa Kuno artinya adalah "ANGIN", dan bila dibaca dengan cara sekarang akan berarti 'sebaiknya/ seyogyanya". Keempat unsur/anasir tersebut adalah yang ada di alam semesta (Jagad/bawana Ageng) serta dalam tubuh manusia (Jagad/bawana Alit). 3. Nama Ajisaka ( Aji & Saka)  adalah berasal dari Bahasa Jawa Kuno, yang berarti Raja/Aji yang Saka (=mengereti & memiliki kemampuan spiritual), Raja Pandita, Pemimpin Spiritual. Prabu Ajisaka juga bernama Prabu Sri Mahapunggung  III, Ki Ajar Padang III, Prabu Jaka Sangkala, Widayaka, Sindhula. Petilasannya adalah api abadi di Mrapen, Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah. Pada saat Sultan Agung Anyakrakusuma bertahta di Mataram abad XVI Masehi, terdapat 3 unsur kalender budaya dominan, iaitu Jawa/Kabudhan (solar system), Hindu (solar system), dan Islam (Hijriah, Lunar Sytem), sementara di wilayah Barat/ Sunda Kelapa dan sekitarnya sudah mulai dikuasai bangsa asing / Belanda. Untuk memperkuat persatuan di wilayah Mataram guna melawan bangsa asing, Sultan Agung melakukan penyatuan kalender yang digunakan. Namun penyatuan kalender Jawa /Saka dan Islam/Hijriah tersebut tetap menyisakan selisih 1 (satu) hari, sehingga terdapat 2 perhitungan, iaitu istilah tahun Aboge (tahun Alip, tgl 1 Suro jatuh hari Rebo Wage), serta istilah Asapon (Tahun Alip, tg 1 Suro, hari Selasa Pon). Perubahan ini bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1043 Hijriah, 29 Besar 1554 Saka, 8 Juli 1633 Masehi. Tanggal tersebut ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan Suro tahun 1554 Jawa (Sultan Agungan), yang digunakan sekarang.   
Dengan demikian, apabila ditilik berdasarkan penanggalan Jawa yang diciptakan mPu Hubayun pada 911 SM, maka saat ini (2012) adalah tahun 2923 Jawa (asli, bukan Saka, Jowo kini, atau Hijriah). Sebuah Kalender asli yang dibuat tidak berdasarkan agama, atau aliran kepercayaan apapun.Timur Kotaraja, Sabtu Pon 31 Desember 2011M,6 Sapar Tahun Wawu 1945J.Y. Isyana dewa (dari berbagai sumber) 

Sunday, October 6, 2013

LAKU PRIHATIN - INVESTASI MENUJU SUKSES ALA MANUSIA JAWA

        Orang Jawa itu akrab dengan sebuah LAKU, yakni menjalankan sebuah kehidupan dengan kesadaran penuh untuk tidak hidup dalam kehidupan yang sarwa "wah", bermewah mewahan tanpa kendali. Laku adalah modalitas kehidupan agar mengarungi hidup harus memiliki kendali. Tanpa kendali orang cenderung lupa diri dan berbuat sekenhendak hati.
       Orang Jawa itu gemar "tirakat" (prihatin), dan sangat percaya bahwa setiap aktivitas yang didahului dengan "laku prihatin" bakal menuai suatu kebahagiaan. Ada kesadaran yang diyakini, jika sdebuah aktivitas didahului dengan pesta pora, bermewah-mewahan agar berakhir negan kekecewaan. Menurut orang Jawa kehidupan itu murmula dari tataran keprihatinan, dan seakan-akan tidak sah jika seorang-orang itu dalam waktu yang secepat kilat langsung menerima kebahagian. Bagaikan adigium  "IF" dan "Than". "Jika" selalu diikuti "maka". 
      Seorang Raja bisa menerima Mahkota, jika ia menjalani laku, itulah yang sering dituturkan dalam lakon, ata legenda Jawa. Orang Jawa percaya, tiada kebahagiaan yang gratis dari langit. 
Buku yang dihadirkan di blog ini membentangkan persoalan laku. Laku Prihatin diyakini sebagai pengantar sukses. Menurut buku ini bahwa  Laku Prihatin itu merupakan investasi menuju sukses.
Dalam penuturannya buku ini dibagi dalam 5 Bab, dengan bahasan antara lain:
Bab I : Menelusuri Pandangan Hidup Orang Jawa (Manusia Jawa, Pandangan dan Cita-cita Hidup Orang Jawa, dan Karakter Orang Jawa.
Bab II : Sukses Hidup dalam Pandangan Orang Jawa (Keberhasilan da Keberuntungan, Orientasi Sukses dabn Sukses Hidup)
Bab III : Laku Prihatin di Jawa (Makna Laku Prihatin, Tujuan Laku Prihatin dan Pedoman Laku Prihatin
Bab IV : Ritualisasi Laku Prihatin (Wujud Laku Prihatin, Laku Prihatin dalam Kisah Wayang, Laku Prihation dalam Sejarah/Legenda Jawa, Laku Prihatin dala Kehidupan Rakyat di Jawa dan Aktivitas Laku Prihatin di Masyarakat Modern di Jawa)
Penutub merupakan Bab V.
DATA BUKU :
PENULIS: Iman Budhi Santoso
PENERBIT : Mamayu Publishing
ISBN: 978-602-971-587-3

Saturday, October 5, 2013

MAKRIFAT SYEKH SITI JENAR DALAM KESETIAAN ZAENAB (DAN 99 BURUNG SURGA)

Saya secara pribadi merasa berdosa kalau belum membentangkan buku ini di blog saya yang saya beri nama Joglo Javanologi. Hanya membentangkan bukan maksud mempropokasi, atau mengagitasi supaya orang membaca buku ini. Tepatnya kata yang saya anggap sopan adalah, saya bermaksud  merekomendasikan agar dibaca. Isinya membimbing hati kita, buku ini seperti memberikan navigasi hati, membimbing emosi agar kita lebih cerdas batin lebih sehat hati. Buku ini merupakan Makrifat yang memberikan daya komparasi hati, agar mau menerima jati diri ini sebagai given dari Allah SWT, lalu kita melakukan rekayasa pikiran, dan menghubungkan nalar dan hati kita saat melihat realitas sosial yang ada. Sadar atau tidak, saat ini kita berada di wililayah yang sedang gonjang ganjing. Hal yang kita katakan tidak mungkin, ternyata terjadi. Nafsu yang bergetar saat ini adalah nafsu yang serba  aneh, mulai syahwat kuasa, dan birahi yang beraneka warna. Inginya serba instants, hanya sekejab sudah terjadi. Godaan tak terbilang jumlah dan macamnya. Berkerja hanya sehari inginya mendapatkan harta seberat bumi, menjabat singgasana yang bermartabat  teryata laknat, bak pengklianat bermoral bejat.
          Baru saja kita terkenjut jika Bupati dan Walikota banyak yang hidup terpencara, setelah tugasnya purna. Gubernur yang membawa pikiran luhur juga tercebur. Barangkali  kita sudah lupa diri, hilang kendali. Tentu orang butuh bacaan yang ringan, namun mampu mengingatkan. Akhirnya terekomendasi sebuha buku bersampul hijau ini, buah karya mendalam dari ringanya hati dan pikiran Ibn Qasim Aba Piluyu, dengan ranah mendaratkan Makrifat Syekh Siti Jenar.
Buku ini patut dibaca, siapa saja. Menurut saya buku ini adalah buku yang JOS GANDOS. Selamat menikmati.
DATA BUKU
JUDUL: Makrifat Syeh Siti Jenar dalam Kesetiaan Zaenab dan 99 Burung Surga
PENULIS: Ibn Qasim Aba Piluyu
PENERBIT: Metro Epistema Progresive thinking
ISBN: 978-602-95293-5-7-

Wednesday, April 3, 2013

SURYO HUDOYO COLLECTOR BUKU TENTANG WAYANG,....SILA KLIK

BLOG,,,,,,,Milik Suryo Hudoyo.  Sangat luar biasa dan penuh dedikasi. Blog ini tidakl sekedar mengoleksi, tapi lebih dari itu. Blog ini punya niatan yang dahsyat dan kekuatan khusus.  Barangkali tidak hanya uang dan waktu membangun Blog ini. Namun kalau diraba, akan terkuak bahwa blog ini ingin menyelamatkan kekayaan sastra Indonesia. Selamat untuk Suryo Hudoyo (Kawicastra). Silakan Klik gambar di atas jika ingin lebih jauh melihat, atau silakan kilk, tulisan KLIK INI

Thursday, January 24, 2013

SOEHARTO - JOKOWI, FALSAFAH JAWA

Seorang pemimpin Jawa, selalu memandu dirinya pada falsafah Jawa. Seperti halnya Presiden Soeharto ketika berkuasa. Bahkan di Era Soeharto muncul buku buku bernuansa Jawa. Ada maha karya Soeharto yang patut untuk dianut. yakni buku "Butir-butir Budaya Jawa". Dalam buku itu mengajak khalayak baca untuk lebih mengetahui kedalaman falsafah Jawa. Tentunya di Nusantara  juga banyak budaya, yang layak pula untuk diteladani. Sekarang seorang-orang Ki NArdjoko Soeseno mengangkat Falsafah Jawa, dan dibukukan dengan tajuk " Falsafah Jawa Soeharto & Jokowi. Buku ini berkisah tentang pemimpin Jawa. Selanjutnya buku ini membentangkan butir-butir falsasah Jawa yang dianut oleh kedua tokoh yang dijadikan bahasan buku ini. Misal yang falsah Jawa yang digunakan Jokowi, seperti:
Sugih tanpa bandha
Digdaya tanpa Aji
Ngluruk tanpa bala
Menang tanpa ngasorake
dan masih banyak lagi.
(Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake - kaya sekalipun tidak mempunyai harta, perkasa sekalipun tidak mempunyai aji-aji, maju bertempur walaupun tidak dengan bala bantuan, ketika menang tidak merendahkan yang dikalahkan.)
 Falsafah yang satu ini, terdiri dari empat kalimat. Tiap-tiap kalimat itu mempunyai makna yang baik.  Seperti kalimat pertama "sugih tanpa bandha". "Sugih itu artinya kaya, dan "bandha" itu berarti harta. Kaya tanpa harta, itulah arti harfiah kalimat ini.

Lalu kalimat kedua yang berbunyi "digdaya tanpa aji". berarti sakti (= digdaya) tanpa memakai azimat (= aji). Ini adalah nasihat kepada seorang manusia untuk sebaiknya bisa seakan-akan punya kesaktian, tapi sesungguhnya  tak memelihara azimat barang sepotong pun.

Selanjutnya kalimat ketiga yang berbunyi "nglurug tanpa bala", berarti menyerang (= nglurug) tanpa membawa pasukan (= bala). manusia harus dapat berupayamenang tanpa harus melibatkan orang lain. Dan yang berikutnya kalimat "menang tanpa ngasorake", yang bermakna mencapai kemenangan tanpa harus merendahkan orang lain.

Wednesday, January 23, 2013

NGUDUD = ORANG JAWA MEROKOK

Menikmati hidup bagi orang Jawa menjadi tataran khusus, yang banyak orang diarahkan untuk semeleh. Kata sabar bagi orang Jawa adalah kata yang dahsyat. Kesabaran banyak diuji, ternyata selalu handal dalam setiap relung kehidupan. Rupanya hala ini sangat berimpit dengan Orang Jawa kala sedang menikmati rokok. Rokok bagi orang Jawa, kadang mampu digunakan mereduksi segenap kekesalan, mungkin semua yang menjadikan ruwet bisa terurai cepat ketika rokok disandingnya. Inilah yang sebagian ditulis dibuku karya mas Iman Budhi Santosa. Ada empat bab yang dibentangkan antara lain:
Bab I. Mengenai  Tembakau, Rokok, Dan Pata Perokok
Bab II. Rokok Dalam Kehidupan Wong Cilik Di Jawa
Bab III. Rokok Di Balik Kehidupan Sosial Politik, Dan Kebudayaan Jawa
Bab IV. Rokok Dan Tantangan Zaman
 

Wednesday, January 18, 2012

ENSIKLOPEDI SYIRIK & BID'AH JAWA


Sunday, August 14, 2011

KITAB MUSARAR "SYEKH SUBAKIR"

Kitab Musarar sejatinya adalah kitab berupa tembang Jawa, isinya berupa Asamaradana (pupuh I), Sinom (Pupu II) dan Pangkur (pupuh III). Kemudian oleh penulis ini diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia. Kemudian segmen yang diketegahkan adalah tembang-tembang yang makna terkait dengan "Asal Muasal Tanah Jawa"

Tuesday, May 24, 2011

SEMAR NGEJOWANTAH MBABAR JATI DIRI


Buku ini menurut penulisnya lahir karena mendapatkan 'dawuh', sehingga yang terpapar ini sebuah dawuh yang berisi kebajikan, pitutur luhur untuk berbudi luhur. Memang orang mengintepretasikan bahwa Semar sering digambarkan sebagai pamong yang tetap senyum ketika dirundung duka, dan dedaya dalam tindakkanya.




Saturday, January 22, 2011

KONYOLNYA ORANG JAWA

Monday, January 10, 2011

SERAT DEWA RUCI (MISTERI AIR KEHIDUPAN)

Sebuah buku yang memiliki citarasa Mistik/Tasawuf. Sangat filosofis dalam mengangkat arti kehidupan.

Saturday, December 25, 2010

DOLANAN

Buku ini berbahasa Jawa, berisi kurang lebih 70 dolanan (Permainan), ya sekarang sering digunakan sebagai moda pembelajaran di lapangan (Out Door). Ternyata di Jawa khasanah permainan sudah banyak, dan pada tahun 1941 sudah terdokumentasikan dengan baik. Buku ini membantangkan jenis juga cara bermainnnya.
Penulis buku ini:
F.H.A. Claessen
M.Sadrjoen
S.Sastrasoewignya.

Friday, September 3, 2010

RAHASIA OTAK MANUSIA JAWA

Sebuah tinjauan ilmu kedokteran
Inilah buku yang mengulas kebudayaan Jawa dari perspektif berbeda, yaitu sebuah tinjauan ilmu kedokteran syaraf modern. Penulis yang merupakan dokter spesialis syaraf modern menekankan betapa penting dan manfaatnya warisan leluhurt Jawa bagi kesehatan. Apa yang pernah dicapai leluhur Jawa adalah pencapaian kebudayaan yang sangat cerdas dan inovatif. Lihat saja, hampir di semua aspek kehidupan orang Jawa mempunyai aspek keteraturan, keindahan dan keanggunan. Bagi penulis kegemilangan budaya Jawa tidak hanya berkaitan dengan masa lalu namun juga masa kini dan bahkan masa depan. Melalui pemikiran dan perenungan yang panjang, penulis akan menjelaskan dengan bukti-bukti ilmiah kedokteran terkait manfaat melestarikan budaya Jawa bagi kesehatan. Dalam buku ini diulas secara praktis dan menarik beraneka ragam aspek kehidupan manusia Jawa dikaitkan dengan pemeliharaan kesehatan syaraf dan jiwa, khususnya untuk mencegah penyakit stroke. Warisan leluhur Jawa yang diurai dalam prespektif medis diantaranya tarian Jawa klasik seperti Srimpi, Gambyong, Bedaya Ketawang, pentingnya huruf HaNaCaRaKa bagi senam dan rehabilitasi otak, manfaat kerawitan bagi penyakit stroke, corak dan warna batik, ragam puasa orang Jawa, hingga pertnak-pernik Jawa mulai wewangianhingga jajanan pasar yang berarti banyak bagi kesehatan.
Membaca buku ini, anggapan sebelah mata bagi sebagian besar orang yang meremehkan warisan leluhur Jawa pun akan terpatahkan. Banyak nilai dan semangat hidup yang bisa dipetik dan dirasakan dengan melestarikan budaya Jawa, Semoga buku ini bermanfaat dan kebudayaan Jawa Pun lebih berarti dan bermanfaat di kemudian hari.
Yandi bahas buku ini:
  1. Stroke malapetka
  2. Apa itu Stroke
  3. Strike dan Manifestasinya
  4. "Jawir Loe!"
  5. Hanacaraka, Ha Na Cara Kanggo Pinter dan Stroke pada Belahan Otak Kanan
  6. Karekter Huruf Jawa dan Fleksibilitas dalam mengubvah Arah
  7. Tarian Jawa, Ngapurancang dan Brain Gym
  8. Kerawitan Jawa
  9. Notasi Musik Jawa dan Area Auditorik Otak
  10. Kenong
  11. Gangguan Jiwa atau Stroke
  12. Simbul Huruf dan Pengucan
  13. Warna-warni Asli Orang Jawa
  14. Tamarin si Asam Jawa dan Atherosclerosis
  15. Batik
  16. Tanaman Simbolik dan Sinaps Otak yang luas
  17. Ukiran dan Rangsangan Saraf Sensorik
  18. Sopan Santum dan Efisiensi Energi
  19. Budaya Selamatan dan Proses Kimiawi pada otak
  20. Ketagihan Prestasi atua Narkoba dan Sirkuait Reward
  21. Puasa Ngrowot dan Nitrogen Oksida dalam Otak
  22. Puasa Mutih dan Peningkatan Sensitivitas Saraf
  23. Wewangian Khas Jawa Dan Sistem Limbik
  24. Wartna-warni Wayang Kulit
  25. Jajanan pasar dan Syaraf Pengecap
  26. Candra Senkala dan Gangguan Pemahaman Bahasa
  27. Membaca Keadaan Dan Afasia Motorik
  28. Beras Kencur, Cabe Lempuyang dan Polifarmasi
  29. Metik Wohing Panggawe, Otak Kanan dan Perubahan Gen Galian Singset dan Anti
  30. Obesitas
  31. Seni Ukir Dan Saraf Sensorik
  32. Bahasa dan Pengaktifan Otak Kiri dan Kanan
  33. Bahas Jawa yang Luhur dan Fungsi Luhur
  34. Dakon dan Memori Prosedural, Penetapan Target, Sirkuit Reward
  35. Mencla-mencle dan Stroke Pada Otak Kecil
  36. Tekanan Suara Dan Ketenangan Jiwa
  37. Falsafat Jawa Adi Luhur sebagai (Conitive Behaviour Terphy) untuk Ketenagan Jiwa dan
  38. Mencegah Stroke
  39. Hanacaraka Untuk Senam Otak, kreativitas dan Rehabilitasi Saraf
  40. Otak Kiri Otak Kanan
  41. Untuk Apa Kreativitas?
  42. Huruf Jawa
  43. Hanacaraka, Perasaan Seni Dan Kreativitas
  44. Perbandingan Huruf Jawa dan Huruf-huruf Serumpun
  45. Kelebihan Huruf Jawa
  46. Senam Otak Hanacaraka
  47. Manfaat Senam Otak dengan Hanacaraka
  48. Epilog.
[]
Data buku
JUDUL: Rahasia Otak Manusia Jawa
PENULIS: Dr. Arman Yurisaldi S,SpS
PENERBIT: Pinus Book Publisher. (belakang Monjali) Yogyakarta 55581 Telp: Redaksi (0274) 867151 Faks. 0274-869506. E-Mail: rumahpinus@yahoo.com, pinusredaksi@gmail.com
ISBN: 978-602-8533-32-4
TEBAL: 199 halaman, 14 x 21 cm
CETAKAN : I - 2010

Friday, March 5, 2010

WEDATAMA GANTJAR

Buku ini berisikan ajaqran makna hidup orang Jawa, buah karya sastra budaya adiluhungKGPAA Mangkunegera IV. Adalah tembang yang makna sarat nasihat hidup dan kehidupan. Ketika orang mencermatinya dengan kesungguhan dapat dipastikan perilaku hidup penuh pertimbangan-pertimbangan yang didominasi oleh kecerdasan hati. Hal tersebut terurai dalam kelompok tembang sbb:
Pada tembang Pangkur, buku ini memberikan suri tauladan yakni bagaimana manusia dalam merengkuh kidup dadasarkan dalam perilaku susila. Kemudian tembang itu juga mengisyaratakan agar dalam berperilaku setiap saat tetap mengedepankan pada perilaku susila.
Pada tembang Gambuh, memberikan isyarat bahwa dalam hidup dan kehidupan manusia sesungguhnya akan menerima konseksuensi atas perbuatannya. Bagaikan tamsil yang mengatakan bahwa manusia itu akan 'mengunduh' apa yang telah ditanam. Kita kan mengunduh "wohing panggawe", artinya kita akan memanen bibit-bibit yang sesuai kita tanam.
Pada tembang Pucung, memberikan petunjuk pada manusia agar jika manusia manuntut ilmu dan memiliki ilmu, ada keharussan yang ditempuh, yakni tetap bersandar pada kecerdasan hati. Manusia sangat dianjurkan memahami bathin orang orang lain. Menghidarkan diri dari ego dan sifat egosentris. Dapat membaca hati orang lain, dapat memahami keinginan orang lain serta dapat memahami perbedaan antara diri dengan orang lain. Setidaknya harus bermodalkan:
  1. Ikhlas/legawa
  2. Rela berkorban
  3. Rendah hati
Kemudian tembang pucung ini juga memberikan pertian pada sikap orang yang berilmu. Orang yang berilmu tinggi, jika tidak sadar dalam menerapkan keunggulannya maka akan cenderung berbuat nista, dan inilah yang harus didasari dan dihindari.
Pada tembang Gambuh, memberikan pembelajaran pada manudsia untuk menembah, atau membengun pencermatan pada empat hal, yakni, menembah pada:
  • Sembah Raga
  • Sembah Cipta
  • Sembah Jiwa
  • Sembah Rasa
Sembah Raga, artinya bahwa manusia dalam mengarungi hidup, manusia dalam bertindak sudah didasarkan pada pikiran jernihnya.
Sembah Cipta, artinya adalah muncul kesadaran hakiki bahwa manusia ketika merengkuh hidupnya selalu mengedepankan jiwanya. Dalam setiap bertindak tidak gegagabah atau merugikan orang lain. Jiwa adalah pusat pengendalian diri manusia
Sembah Jiwa, artinya......maaf belum tuntas masih belajar lagi
Data buku
JUDUL: Wedatama Gantjar
PENULIS: KPAA Mangkunegara IV
PENERBIT:Kuluarga Soebarno. Naju Barat 3/1 Kotak Pos 73 Solo
CETAKAN:---Agustus 1954
TEBAL: 38 Halaman.
Kondisi Buku Masih segar bugar, adapat terbaca, Dikais dari Komuniats buku lama Malang. Veloodrom Sawojajar Malang.
[][]

Friday, January 22, 2010

BUKU CERDAS 1818 PERIBAHASA JAWA


KAMUS PINTAR KAWERUH JAWA


Saturday, December 26, 2009

RIMBON AJI JAPA MANTRA

Adalah warisan leluhur yang berumur, buku ini jika dihitung umurnya sudah mencapai 54 tahun. Merupakan kreasi muda yang cenderung pada ritual permohonan kepada Sang Pencipta. Buku ini berbeda dengan primbon pada umunya, karena isinya didominasi dengan aji japa mantra. Laur biasa, semua aji yang terkenal saat itu dituliskan matranya. Puluhan japa mantra dan beberapa lelaku ada dzlam kemasan buku ini.

Monday, December 7, 2009

URIP ORA GAMPANG

Pitutur luhur yang diunggah di Joglo ini merupakan warisan para leluhur. Isinya berupa kata bijak yang mengajak semua manusia harus berkubang pada ranah rasa yang tinggi. Orang itu harus cerdas tapi harus cerdas hati.

Sunday, October 25, 2009

WAYANG KEBATINAN ISLAM

Diungkap suatu bentuk cara pandang, yakni wayang sebagi warisan budaya menyimpan jalinan pengetahuan, bahkan agama ikut menerawangnya. Kisahnya adalah keika para Wali bersiar membuat lebar luasnya agama. Wayang merupakan alat yang mampu menerjemahgkan masud dan niatan sang wali. --belum tuntas

Warto Selaras

Google